Gen Z dan Preferensi terhadap Brand
Generasi Z (Gen Z) dikenal sebagai generasi yang kritis, sadar sosial, dan memiliki kepedulian tinggi terhadap berbagai isu global. Dalam menentukan pilihan belanja, mereka tidak lagi hanya mempertimbangkan harga dan kualitas produk, tetapi juga nilai-nilai yang dibawa oleh sebuah brand. Hal ini diperkuat oleh data dari CICSC Report: The Rise of the Gen Z Consumer (2023) yang menunjukkan bahwa sikap sosial perusahaan memegang peranan penting dalam keputusan konsumsi Gen Z.
1. Kesehatan Mental Menjadi Isu Utama (53%)
Sebanyak 53% Gen Z menginginkan brand yang mereka dukung juga peduli pada isu kesehatan mental. Persentase ini menjadi yang tertinggi dibandingkan isu lainnya. Hal ini mencerminkan bahwa Gen Z sangat terbuka terhadap isu psikologis, keseimbangan hidup, dan kesejahteraan mental. Brand yang menunjukkan dukungan melalui kampanye edukatif, lingkungan kerja yang sehat, serta komunikasi yang empatik memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan kepercayaan dari generasi ini.
2. Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Keberlanjutan (47%)
Sebesar 47% Gen Z menaruh perhatian pada isu lingkungan dan sustainability. Mereka cenderung memilih brand yang menerapkan praktik ramah lingkungan, seperti penggunaan bahan daur ulang, pengurangan emisi karbon, serta produksi yang bertanggung jawab. Kesadaran akan dampak krisis iklim membuat Gen Z lebih selektif terhadap brand yang dianggap merusak lingkungan.

3. Kesetaraan Ras dan Gender (47%)
Dengan persentase yang sama, 47% Gen Z menginginkan dukungan brand terhadap kesetaraan ras dan gender. Mereka menolak diskriminasi dalam bentuk apa pun dan mengapresiasi perusahaan yang menjunjung tinggi nilai inklusivitas, keberagaman, serta kesempatan yang setara bagi semua pihak.
4. Praktik Ketenagakerjaan yang Etis (42%)
Sebanyak 42% Gen Z peduli pada praktik ketenagakerjaan yang adil dan etis, yang mencakup:
- Penerapan fair trade
- Upah yang layak
- Sumber bahan yang etis
Gen Z ingin memastikan bahwa produk yang mereka konsumsi tidak berasal dari eksploitasi tenaga kerja atau pelanggaran hak asasi manusia.
5. Dukungan terhadap Hak LGBTQ+ (26%)
Terdapat 26% Gen Z yang mengharapkan brand mendukung hak-hak LGBTQ+. Meskipun persentasenya tidak sebesar isu lainnya, data ini tetap menunjukkan adanya kebutuhan akan ruang yang aman, inklusif, dan bebas diskriminasi dalam dunia bisnis.
6. Keterlibatan Sipil dan Aktivisme Politik (20%)
Isu dengan persentase terendah adalah civic engagement dan aktivisme politik, yaitu sebesar 20%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Gen Z peduli terhadap perubahan sosial, tidak semua dari mereka menginginkan brand terlibat secara langsung dalam ranah politik.
Kesimpulan: Nilai Sosial Menjadi Kunci Kepercayaan Gen Z
Data ini menunjukkan bahwa Gen Z menilai brand tidak hanya dari apa yang mereka jual, tetapi juga dari apa yang mereka perjuangkan. Isu kesehatan mental, lingkungan, dan kesetaraan sosial menjadi faktor utama dalam membangun kepercayaan dan loyalitas Gen Z terhadap sebuah perusahaan.
Bagi brand yang ingin menjangkau pasar Gen Z, penting untuk:
- Menunjukkan kepedulian nyata, bukan sekadar kampanye simbolis.
- Konsisten dalam menjalankan nilai-nilai sosial.
- Transparan dalam kebijakan perusahaan dan proses produksi.
Di era konsumen yang semakin sadar nilai, brand yang peduli akan lebih mudah dipercaya dan dipilih oleh Gen Z.
