Kenapa Banyak Bisnis Baru Sulit Mendapatkan Order Pertama?
Banyak orang mengira tantangan tersulit dalam bisnis adalah mempertahankan pelanggan. Padahal, bagi pelaku usaha baru, justru mendapatkan order pertama sering menjadi fase paling berat. Di titik ini, produk sudah siap, promosi mulai dijalankan, media sosial sudah diisi, bahkan iklan sudah dicoba—namun transaksi belum juga terjadi.
Order pertama bukan sekadar soal pemasukan awal, tetapi juga soal validasi: apakah bisnis ini benar-benar dibutuhkan oleh pasar atau tidak.
Order Pertama adalah Masalah Kepercayaan, Bukan Sekadar Promosi
Kesalahan paling umum bisnis baru adalah menganggap bahwa masalah utama mereka adalah kurang promosi. Padahal, dalam banyak kasus, masalah utamanya adalah belum adanya kepercayaan.
Bagi calon pelanggan, terutama di sektor jasa dan B2B, membeli dari bisnis baru berarti mengambil risiko. Belum ada portofolio, belum ada testimoni, dan belum ada jejak proyek yang bisa dijadikan pegangan. Akibatnya, meski mereka tertarik, keputusan membeli sering tertunda atau bahkan dibatalkan.
Di tahap awal, bisnis tidak sedang bersaing soal harga atau kualitas saja, tetapi bersaing soal rasa aman.

Pasar Tidak Selalu Siap dengan Kehadiran Bisnis Baru
Masalah lain yang sering tidak disadari adalah soal timing pasar. Banyak bisnis baru lahir dari sudut pandang internal: “Saya bisa membuat ini”, bukan dari sudut pandang pasar: “Apakah sekarang orang benar-benar membutuhkannya?”
Akibatnya, promosi bisa berjalan, traffic bisa datang, tapi permintaan riil belum terbentuk. Inilah mengapa order pertama sering terasa sangat lama: bukan karena produk buruk, tetapi karena pasar belum merasa butuh saat itu juga.
Baca juga: “Yang Penting Viral” sebagai KPI Baru Dunia Marketing
Terjebak Ramainya Aktivitas, Sepinya Transaksi
Di awal bisnis, aktivitas sering terlihat sangat sibuk: posting konten, ikut pameran, broadcast WhatsApp, kirim penawaran ke banyak kontak. Secara permukaan, semuanya tampak bergerak. Namun, yang sering luput disadari adalah bahwa aktivitas tidak selalu berbanding lurus dengan hasil transaksi.
Banyak bisnis baru mengejar perhatian sebanyak mungkin, tetapi belum benar-benar menargetkan orang yang siap membeli. Akhirnya, yang terkumpul hanyalah ketertarikan, bukan keputusan.
Order Pertama Sering Datang dari Lingkaran Terdekat
Fakta yang jarang dibicarakan: bagi banyak pelaku usaha, order pertama justru bukan datang dari iklan atau media sosial, melainkan dari relasi terdekat—teman, kenalan, atau rekomendasi dari orang yang sudah kenal lebih dulu.
Ini menunjukkan bahwa pada fase awal, modal sosial sering lebih kuat daripada modal promosi. Bukan karena iklan tidak efektif, tetapi karena kepercayaan masih lebih mudah terbentuk lewat hubungan personal.
Bukan Soal “Laku atau Tidak”, Tapi “Kapan Dipercaya”
Sulitnya mendapatkan order pertama sering membuat pelaku usaha merasa produknya tidak laku. Padahal, masalahnya sering bukan pada produknya, melainkan pada waktu yang dibutuhkan pasar untuk percaya.
Bisnis-bisnis yang bertahan biasanya bukan yang langsung meledak di awal, tetapi yang sanggup bertahan melewati fase sepi, terus membangun kredibilitas, memperbaiki komunikasi, dan menunggu momentum yang tepat.
Penutup
Order pertama adalah fase paling krusial dan paling menguji mental dalam perjalanan bisnis. Ia adalah titik pertemuan antara produk, pasar, dan kepercayaan. Selama kepercayaan belum terbentuk, promosi sebesar apa pun akan terasa berat hasilnya.
Namun ketika kepercayaan itu akhirnya muncul—meski dari satu pelanggan pertama—di situlah roda bisnis mulai benar-benar berputar.
