Content Marketing dan Pentingnya Customer Path
Dalam praktiknya, audiens tidak langsung membeli atau menggunakan layanan hanya karena melihat satu konten. Mereka melewati proses bertahap: mulai dari mengenal brand, merasa tertarik, mencari informasi, melakukan tindakan, hingga akhirnya merekomendasikan brand tersebut kepada orang lain.
Konsep 5A (Aware, Appeal, Ask, Act, Advocate) membantu pemasar memahami perjalanan ini secara utuh. Setiap tahap memiliki tujuan dan metrik yang berbeda, sehingga evaluasi konten dapat dilakukan secara lebih objektif dan terarah.

1. Aware (Terlihat): Konten Harus Mudah Ditemukan
Tahap pertama dalam content marketing adalah memastikan konten Anda terlihat oleh audiens yang tepat. Pada fase ini, fokus utama bukan pada interaksi, melainkan pada jangkauan dan eksposur.
Pertanyaan kuncinya adalah: seberapa banyak orang yang benar-benar melihat konten Anda?
Metrik yang umum digunakan antara lain page views dan unique visitors. Angka ini menunjukkan seberapa luas konten menjangkau audiens. Konten dengan visibilitas tinggi membuka peluang lebih besar bagi brand untuk dikenal, meskipun interaksi belum tentu terjadi di tahap awal ini.
2. Appeal (Relevan): Konten Harus Terasa “Ngomong ke Audiens”
Setelah konten berhasil menjangkau audiens, tantangan berikutnya adalah membuat mereka merasa konten tersebut relevan dengan kondisi mereka. Konten yang baik adalah konten yang mampu menyentuh kegelisahan, kebutuhan, atau keinginan audiens.
Pada tahap Appeal, dua metrik yang sering digunakan adalah bounce rate dan average time on site.
Bounce rate yang rendah menandakan bahwa audiens tidak langsung meninggalkan halaman karena merasa konten tersebut layak dibaca. Sementara itu, waktu baca yang lebih lama menunjukkan bahwa konten benar-benar menarik dan mampu mempertahankan perhatian.
Konten yang relevan bukan hanya informatif, tetapi juga terasa personal dan kontekstual.
3. Ask (Mudah Dicari): Konten Harus Hadir Saat Dibutuhkan
Audiens yang tertarik biasanya akan melanjutkan ke tahap pencarian informasi. Mereka mengetik pertanyaan di Google, membandingkan referensi, dan mencari sumber yang paling kredibel.
Pada tahap Ask, konten harus mudah ditemukan di mesin pencari. Optimasi SEO menjadi faktor penting di sini. Salah satu indikator yang sering digunakan adalah peringkat konten di hasil pencarian, termasuk konsep seperti PageRank atau posisi keyword utama.
Konten yang searchable memberi sinyal bahwa brand hadir sebagai solusi, bukan sekadar pengisi ruang digital.
Baca juga: 5 Prinsip Utama Content Marketing untuk Membangun Brand yang Relevan
4. Act (Mendorong Tindakan): Konten Harus Menggerakkan
Konten yang efektif tidak berhenti pada dibaca saja. Ia harus mampu mendorong audiens melakukan tindakan lanjutan, seperti mengklik tautan, membaca artikel lain, mengisi formulir, atau menghubungi brand.
Tahap Act biasanya diukur melalui Click-Through Rate (CTR). CTR yang tinggi menunjukkan bahwa judul, isi, dan ajakan bertindak dalam konten sudah cukup kuat untuk menggerakkan audiens.
Di sinilah kualitas copywriting, struktur konten, dan call-to-action memainkan peran penting.
5. Advocate (Layak Dibagikan): Konten Harus Menginspirasi
Tahap tertinggi dalam content marketing adalah ketika audiens dengan sukarela membagikan konten Anda. Ini menandakan bahwa konten tidak hanya bermanfaat, tetapi juga memiliki nilai emosional atau inspiratif.
Pada tahap Advocate, metrik yang umum digunakan adalah jumlah interaksi dan share di media sosial, seperti likes, komentar, retweet, atau pembagian tautan. Konten yang sering dibagikan memiliki daya jangkau organik yang kuat sekaligus meningkatkan kredibilitas brand di mata audiens baru.
Penutup: Content Marketing adalah Proses, Bukan Sekali Jalan
Content marketing bukan strategi instan. Ia membutuhkan konsistensi, evaluasi, dan keberanian untuk terus bereksperimen. Pendekatan 5A membantu pemasar memahami bahwa setiap konten memiliki peran berbeda dalam perjalanan audiens.
Dengan mengukur konten secara tepat di setiap tahap—mulai dari terlihat, relevan, mudah dicari, mendorong tindakan, hingga layak dibagikan—brand dapat membangun strategi content marketing yang lebih terarah, efektif, dan berkelanjutan.
Kini pertanyaannya bukan lagi “apakah Anda membuat konten?”, tetapi “apakah konten Anda benar-benar bekerja?”
