Terlalu Fokus Mengejar Traffic, Lupa pada Lead
Dalam praktik digital marketing, masih banyak bisnis yang menilai keberhasilan hanya dari besarnya traffic. Website ramai dianggap sukses, iklan dengan ribuan klik dianggap efektif. Padahal, tidak semua pengunjung memiliki kebutuhan yang relevan dengan produk atau jasa yang ditawarkan. Akibatnya, traffic memang tinggi, tetapi tidak memberi dampak nyata bagi penjualan.
Traffic pada dasarnya hanya menunjukkan bahwa orang datang. Ia belum menunjukkan minat, apalagi kesiapan untuk membeli. Jika traffic tidak disertai dengan ketertarikan yang nyata, maka ia hanya menjadi angka statistik tanpa nilai bisnis.
Mengapa Lead Lebih Penting daripada Traffic
Lead menunjukkan bahwa seseorang tidak hanya melihat, tetapi juga tertarik dan mulai mempertimbangkan. Ketika seseorang mengisi form, menghubungi WhatsApp, atau meminta penawaran, artinya ia sudah masuk ke tahap yang lebih serius dibanding sekadar pengunjung biasa.
Di sinilah perbedaan nilai antara traffic dan lead terlihat jelas. Seribu pengunjung yang tidak relevan bisa saja tidak menghasilkan satu pun transaksi. Sebaliknya, sepuluh lead berkualitas dapat membuka peluang beberapa proyek bernilai besar, khususnya dalam bisnis jasa dan proyek seperti outdoor advertising.
Lead juga memberi data yang bisa ditindaklanjuti. Tim sales memiliki titik awal untuk membangun komunikasi, memahami kebutuhan klien, dan mengarahkan proses menuju kesepakatan. Tanpa lead, traffic tidak bisa diolah menjadi peluang bisnis yang nyata.

Conversion Memang Paling Ideal, Tetapi Terasa “Terlalu Berat”
Secara ideal, conversion (PO, DP, penandatangan kontrak) adalah ukuran paling objektif — langsung berhubungan dengan revenue. Namun ada alasan mengapa tim sering tidak mau atau sulit mengukurnya secara andal:
- Sales cycle panjang — proyek B2B bisa makan waktu minggu/bulan sehingga atribusi iklan → deal jadi rumit.
- Konversi sering offline — banyak deal terjadi lewat WhatsApp, telepon, atau tatap muka; kalau tidak terintegrasi ke CRM, data hilang.
- Beban pencatatan untuk sales — tim sales sibuk closing; menginput sumber lead atau mengupdate CRM sering dianggap kerja tambahan yang merepotkan.
- Attribution yang kompleks — pelanggan menyentuh banyak channel sebelum deal; menilai “campaign A” sebagai penyebab conversion sering tidak straightforward.
Lead sebagai Jembatan antara Traffic dan Conversion
Di sinilah peran lead menjadi sangat penting. Lead berada di tengah: lebih bermakna daripada traffic, tetapi lebih ringan untuk diukur dibanding conversion akhir. Dengan menjadikan lead sebagai fokus utama, perusahaan tetap bisa menilai efektivitas pemasaran tanpa terbebani oleh kompleksitas pencatatan conversion penuh.
Lead juga memungkinkan kolaborasi yang lebih sehat antara tim marketing dan sales. Marketing bertugas memastikan prospek yang masuk relevan dengan target bisnis, sementara sales bertugas mengubah prospek tersebut menjadi kesepakatan. Jika kualitas lead baik, beban kerja sales menjadi lebih ringan dan peluang closing meningkat.
Masalah Bukan pada Jumlah Lead, tetapi Kualitasnya
Tidak semua lead bernilai sama. Lead yang datang tanpa kebutuhan jelas, tanpa anggaran, atau tanpa kewenangan mengambil keputusan sering kali hanya menghabiskan waktu tim sales. Karena itu, fokus pada lead harus selalu dibarengi dengan penyaringan kualitas.
Lead berkualitas biasanya ditandai dengan kebutuhan yang spesifik, respons yang cepat, serta kesesuaian dengan segmen pasar yang dituju bisnis. Dalam konteks outdoor advertising, misalnya, lead dari pemilik usaha dengan lokasi jelas dan kebutuhan media yang spesifik tentu jauh lebih bernilai daripada sekadar pertanyaan harga tanpa konteks.
Baca juga: “Yang Penting Viral” sebagai KPI Baru Dunia Marketing
Studi Sederhana
Dua kampanye bisa saja menunjukkan hasil yang sangat berbeda meskipun sama-sama menghasilkan klik. Kampanye pertama mendatangkan ribuan kunjungan, namun hanya sedikit yang benar-benar bertanya serius. Kampanye kedua justru menghasilkan kunjungan lebih sedikit, tetapi sebagian besar pengunjungnya langsung meminta penawaran dan berujung pada proyek nyata. Dari sini terlihat bahwa relevansi lebih penting daripada volume.
Penutup: Mengubah Pola Pikir dari “Ramai” Menjadi “Bernilai”
Traffic tetap penting sebagai pintu masuk, terutama untuk membangun awareness. Namun jika terlalu terfokus pada traffic tanpa memikirkan lead, bisnis hanya akan mengejar keramaian tanpa hasil.
Conversion memang tujuan akhir, tetapi untuk operasional sehari-hari, lead adalah metrik paling realistis dan paling strategis sebagai jembatan antara aktivitas marketing dan pertumbuhan bisnis.
Bisnis yang matang bukanlah bisnis yang paling ramai, melainkan bisnis yang paling mampu mengubah perhatian menjadi minat, dan minat menjadi transaksi.













