Strategi Content Marketing Paddle Pop
Bagi anak-anak usia 8 hingga 12 tahun, es krim bukan sekadar makanan ringan, melainkan bagian dari pengalaman menyenangkan dalam keseharian mereka. Namun, di tengah semakin banyaknya pilihan snack dan hiburan anak, mempertahankan posisi sebagai top of mind menjadi tantangan besar bagi merek es krim legendaris seperti Paddle Pop. Menyadari hal tersebut, Paddle Pop memilih pendekatan yang berbeda dari para kompetitornya.
Alih-alih hanya berfokus pada inovasi produk dan promosi konvensional, pada tahun 2011 Paddle Pop bekerja sama dengan agensi Lowe and Partners untuk merancang strategi pemasaran berbasis konten hiburan terintegrasi (360-degree content marketing). Strategi ini menempatkan brand bukan sekadar sebagai penjual produk, melainkan sebagai bagian dari dunia hiburan anak-anak.

Maskot sebagai Pusat Cerita dan Brand Essence
Paddle Pop memanfaatkan kekuatan maskot ikoniknya, Paddle Pop Lion, sebagai fondasi utama strategi konten. Maskot singa ini telah lama dikenal dan dicintai oleh anak-anak, sehingga memiliki kedekatan emosional yang kuat. Paddle Pop kemudian menggali satu pertanyaan kunci: apa yang sebenarnya diinginkan anak-anak dari sebuah konten hiburan?
Jawabannya bukan sekadar iklan, melainkan cerita, petualangan, dan karakter yang bisa diikuti secara berkelanjutan. Dari sinilah konsep dunia petualangan Paddle Pop mulai dikembangkan.
Baca juga: 5 Prinsip Utama Content Marketing untuk Membangun Brand yang Relevan
Paddle Pop Adventures: Dari Konten Digital hingga Layar Lebar
Pada tahun 2012, Paddle Pop meluncurkan kampanye digital bertajuk Paddle Pop Adventures, sebuah portal hiburan yang menampilkan sebelas seri video animasi. Setiap episode berdurasi sekitar 22 menit dan mengisahkan petualangan Paddle Pop Lion bersama karakter lain, termasuk Leena, singa perempuan yang menjadi teman seperjalanan, dalam menghadapi musuh utama bernama Shadow Master.
Konten ini tidak hanya dirilis secara digital melalui YouTube, tetapi juga diperkuat dengan berbagai kanal lain:
- Iklan televisi yang ditayangkan di 30 negara
- Film layar lebar Paddle Pop Begins yang diputar di bioskop
- Konten DVD berdurasi hingga 90 menit
- Pengembangan game dua dimensi untuk memperpanjang pengalaman cerita
Pendekatan lintas platform ini memungkinkan anak-anak untuk terus berinteraksi dengan dunia Paddle Pop, tidak terbatas pada satu media saja.
Aktivasi 360 Derajat: Online, Offline, dan Experiential
Strategi Paddle Pop tidak berhenti pada konten digital dan film. Program ini dikembangkan menjadi kampanye 360 derajat yang mencakup:
- Taman tematik Paddle Pop Adventures
- Aktivasi offline dan event anak
- Aktivitas PR dan sponsorship
- Kompetisi berbasis stik es krim Paddle Pop
Dengan cara ini, Paddle Pop berhasil menghadirkan brand experience yang konsisten di berbagai titik interaksi, baik di rumah, sekolah, pusat perbelanjaan, hingga tempat hiburan.
Adaptasi Pasar Global dan Pencapaian Kampanye
Kampanye ini juga menunjukkan fleksibilitas strategi global yang kuat. Di negara seperti Indonesia, Australia, Meksiko, dan India, Paddle Pop mengembangkan program televisi untuk bersaing dengan tayangan anak populer seperti SpongeBob, Phineas & Ferb, hingga Harry Potter.
Sementara itu, di Turki, pendekatan bioskop terbukti sangat efektif. Paddle Pop Begins berhasil menduduki posisi tiga besar film paling banyak ditonton, bahkan mengungguli beberapa film Hollywood pada periode penayangannya.
Dari sisi hasil, kampanye ini mencatat pencapaian signifikan:
- Lebih dari 1,2 juta anak bergabung dalam Paddle Pop Gaming League di India
- Lebih dari 5 juta DVD terjual di kawasan Asia Tenggara
Pelajaran Strategis bagi Brand
Keberhasilan Paddle Pop menunjukkan bahwa content marketing yang kuat bukan hanya soal format, tetapi soal membangun dunia cerita yang relevan dengan audiens. Dengan menjadikan maskot sebagai karakter hidup, bukan sekadar simbol, Paddle Pop mampu menciptakan keterikatan emosional jangka panjang dengan konsumennya.
Strategi ini membuktikan bahwa ketika brand berani berinvestasi pada cerita, pengalaman, dan konsistensi lintas kanal, maka produk tidak lagi dipasarkan secara langsung—melainkan hadir secara alami dalam kehidupan audiensnya.
