Bagaimana Teras BRI Menghapus Hambatan Psikologis Masyarakat Desa
Bagi sebagian masyarakat desa, bank bukan sekadar tempat transaksi keuangan. Bank sering kali dipersepsikan sebagai ruang yang kaku, formal, dan “bukan untuk orang kecil”. Persepsi inilah yang selama bertahun-tahun menjadi hambatan psikologis bagi masyarakat desa untuk mengakses layanan perbankan secara optimal. Melalui konsep Teras BRI, Bank Rakyat Indonesia berupaya mematahkan sekat tersebut dengan pendekatan yang lebih manusiawi dan kontekstual.
Bank dan Jarak Psikologis dengan Masyarakat Desa
Hambatan utama yang dihadapi masyarakat desa terhadap bank bukan hanya soal jarak geografis, tetapi juga jarak emosional. Interior bank yang tertutup, sistem antrean yang terasa asing, hingga bahasa komunikasi yang formal sering kali menimbulkan rasa canggung dan takut berbuat salah. Bagi pelaku UMKM kecil, petani, atau pedagang pasar, pengalaman masuk ke bank bisa menjadi tekanan tersendiri.
Kondisi ini membuat banyak masyarakat desa lebih memilih menyimpan uang secara tradisional atau mengandalkan lembaga keuangan informal, meskipun risikonya lebih besar. Di sinilah tantangan besar inklusi keuangan muncul: bagaimana membuat bank terasa dekat, akrab, dan relevan.

Teras BRI sebagai Ruang Transisi Sosial
Teras BRI hadir bukan sekadar sebagai area fisik, tetapi sebagai ruang transisi sosial antara masyarakat desa dan sistem perbankan modern. Berbeda dengan kantor bank konvensional, Teras BRI dirancang lebih terbuka, santai, dan menyerupai ruang publik. Elemen ini secara tidak langsung mengurangi tekanan psikologis bagi masyarakat yang baru pertama kali berinteraksi dengan bank.
Pendekatan ini selaras dengan karakter masyarakat desa yang terbiasa berinteraksi secara informal dan komunal. Dengan suasana yang lebih “membumi”, masyarakat tidak lagi merasa sedang memasuki institusi yang asing, melainkan ruang yang bisa mereka pahami dan terima.
Menghilangkan Rasa Takut dan Canggung
Salah satu kekuatan Teras BRI terletak pada kemampuannya menghilangkan rasa takut berbuat salah. Di Teras BRI, interaksi tidak selalu dimulai dari meja teller atau customer service yang formal. Percakapan bisa dimulai secara santai, dengan bahasa yang lebih sederhana dan pendekatan yang lebih personal.
Hal ini sangat penting bagi masyarakat desa yang mungkin belum terbiasa dengan istilah perbankan. Ketika rasa canggung hilang, kepercayaan pun tumbuh. Dan dalam dunia keuangan, kepercayaan adalah fondasi utama.
bACA JUGA: Banyak yang Bertanya, Tapi Tidak Jadi Beli? Inilah Masalah di Tahap Ask
Simbol Bank yang Lebih Humanis
Secara branding, Teras BRI merepresentasikan pergeseran citra bank dari institusi kaku menjadi mitra masyarakat. Kehadiran Teras BRI di wilayah pedesaan menjadi simbol bahwa bank hadir untuk melayani, bukan menghakimi atau membatasi.
Pendekatan ini sejalan dengan semangat Marketing 3.0, di mana konsumen dipandang sebagai manusia seutuhnya—bukan sekadar angka transaksi. BRI memahami bahwa untuk melayani masyarakat desa, yang perlu diubah bukan hanya sistem, tetapi juga persepsi dan pengalaman.
Dampak Jangka Panjang bagi Inklusi Keuangan
Dengan menurunnya hambatan psikologis, masyarakat desa menjadi lebih terbuka terhadap layanan keuangan formal. Mulai dari menabung, mengakses pembiayaan usaha, hingga mengenal layanan digital secara bertahap. Teras BRI berperan sebagai pintu masuk yang aman dan nyaman sebelum masyarakat benar-benar terintegrasi ke dalam ekosistem perbankan modern.
Dalam jangka panjang, pendekatan ini tidak hanya meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, tetapi juga memperkuat hubungan emosional antara bank dan masyarakat desa.
Penutup
Teras BRI membuktikan bahwa inklusi keuangan tidak selalu harus dimulai dari teknologi canggih atau regulasi kompleks. Terkadang, solusi paling efektif justru hadir dari pemahaman sederhana: menghilangkan rasa takut, mendekatkan diri, dan memanusiakan layanan.
Dengan menghadirkan ruang yang akrab dan bersahabat, Teras BRI berhasil menghapus hambatan psikologis masyarakat desa—dan pada saat yang sama, memperkuat peran bank sebagai bagian dari kehidupan sosial mereka.
