Awareness: Gerbang Pertama Pemasaran
Tahap awareness adalah momen ketika seseorang pertama kali bersentuhan dengan brand kita. Bisa melalui konten media sosial, iklan digital, billboard di pinggir jalan, video influencer, atau sekadar lewat cerita dari teman.
Di sinilah kesan pertama terbentuk. Dan seperti dalam pertemuan antar manusia, kesan pertama sering kali menentukan apakah hubungan akan berlanjut atau berhenti begitu saja.
Jika di tahap ini brand gagal menarik perhatian, maka sebesar apa pun budget iklan yang dikeluarkan setelahnya akan terasa seperti menuangkan air ke pasir.
Masalah Utama: No Attention
Masalah terbesar di tahap awareness adalah satu: No Attention.
Bukan berarti brand tidak beriklan, tapi iklannya:
- Lewat tanpa disadari
- Dilihat tanpa diingat
- Muncul tanpa meninggalkan kesan
Orang mungkin sempat melihat, tapi tidak benar-benar “melihat”. Mereka scroll lewat, berpindah pandangan, lalu lupa dalam hitungan detik. Brand ada, tapi tidak melekat di kepala siapa pun.
Dan inilah awal dari banyak kegagalan marketing.
Kenapa Brand Bisa Mengalami No Attention?
Jika ditelusuri lebih dalam, kegagalan di tahap awareness hampir selalu berakar pada beberapa hal berikut.
1. Pesan yang Terlalu Biasa
Banyak brand berbicara dengan bahasa yang sama:
“Terbaik”, “Termurah”, “Berkualitas”, “Terpercaya”.
Semua terdengar bagus, tapi justru karena itu tidak ada yang benar-benar menarik. Audiens tidak menemukan sesuatu yang berbeda. Tidak ada alasan untuk berhenti dan memperhatikan.
Di tengah ribuan pesan yang datang setiap hari, yang biasa-biasa saja akan selalu kalah.
2. Salah Menyapa Orang yang Salah
Ada brand yang produknya untuk segmen tertentu, tapi komunikasinya ditujukan ke semua orang. Akhirnya tidak ada yang benar-benar merasa disapa.
Ketika pesan tidak relevan dengan kebutuhan audiens, perhatian pun tidak akan muncul. Orang hanya tertarik pada hal yang terasa dekat dengan hidup mereka.
3. Terlalu Cepat Menjual
Banyak brand terburu-buru ingin langsung closing di pertemuan pertama. Baru kenal, langsung disodori harga. Baru muncul di feed, langsung mengajak beli.
Padahal, di tahap awareness, audiens belum siap membeli. Mereka baru ingin mengenal. Ketika dipaksa membeli terlalu cepat, yang terjadi justru penolakan.
4. Media Promosi Tidak Sesuai Kebiasaan Audiens
Brand sudah beriklan, tetapi di tempat yang salah. Target pasarnya aktif di satu platform, namun iklannya muncul di platform lain. Akhirnya pesan tidak pernah benar-benar sampai ke orang yang tepat.
Bukan soal seberapa banyak beriklan, tapi seberapa tepat tempatnya.
5. Branding yang Tidak Konsisten
Hari ini tampilannya A, besok ganti konsep B, minggu depan berubah lagi. Tidak ada ciri khas yang kuat. Akibatnya, audiens sulit mengingat dan mengenali brand tersebut.
Padahal, awareness bukan hanya soal terlihat, tetapi juga mudah diingat.
Lalu, Bagaimana Cara Mengatasi No Attention?
Masalah No Attention tidak bisa diselesaikan dengan satu cara saja. Dibutuhkan pendekatan yang menyentuh perhatian audiens dari berbagai sisi. Di sinilah empat strategi utama berperan: Improve Attention, Event Marketing, Broadcast, dan Influencer Marketing.
Improve Attention: Membuat Brand Layak Diperhatikan
Langkah pertama adalah memperbaiki cara brand menarik perhatian. Bukan dengan berteriak lebih keras, tetapi dengan berbicara lebih relevan dan lebih menarik.
Konten harus:
- Memicu rasa penasaran
- Menyentuh masalah nyata audiens
- Menghadirkan sudut pandang baru
- Didukung visual yang kuat
Konten yang baik bukan yang paling ramai, tetapi yang membuat orang berkata dalam hati, “Ini gue banget.”
Saat audiens merasa terhubung secara emosional, perhatian tidak perlu lagi dipaksa. Ia akan datang dengan sendirinya.
Baca juga: Kenapa Banyak Brand Gagal di Tahap Awareness? Ini Penyebab dan Solusinya
Event Marketing: Membangun Kesadaran Lewat Pengalaman Nyata
Ada perbedaan besar antara melihat iklan dan mengalami sebuah brand. Di sinilah kekuatan event marketing bekerja.
Ketika seseorang bertemu langsung dengan brand di sebuah pameran, roadshow, atau aktivasi di ruang publik, yang terbentuk bukan hanya ingatan visual, tapi juga pengalaman.
Pengalaman jauh lebih mudah diingat dibandingkan sekadar tampilan iklan di layar.
Event membuat brand terasa nyata, hidup, dan dekat dengan audiens. Bukan sekadar nama, tapi sebuah kehadiran.
Broadcast Marketing: Menyebarkan Pesan Secara Masif
Broadcast marketing berfungsi untuk memperluas jangkauan dalam waktu cepat. Tujuannya bukan langsung menjual, tetapi membuat semakin banyak orang sadar bahwa brand itu ada.
Melalui iklan digital, email blast, media online, hingga media luar ruang seperti billboard dan videotron, brand memperbanyak titik temu dengan audiens.
Semakin sering seseorang melihat sebuah brand dalam konteks yang tepat, semakin besar peluang brand tersebut diingat.

Influencer Marketing: Meminjam Kepercayaan
Di era sekarang, orang lebih mudah percaya pada manusia dibandingkan iklan. Di sinilah peran influencer menjadi sangat penting.
Ketika seorang figur yang dipercaya audiens membicarakan sebuah brand, perhatian muncul lebih cepat. Bukan karena produknya langsung menarik, tetapi karena kepercayaan sudah lebih dulu terbentuk.
Namun influencer bukan soal siapa yang paling terkenal, melainkan siapa yang:
- Relevan dengan audiens
- Dipercaya pengikutnya
- Memiliki kedekatan dengan komunitasnya
Awareness Bukan Tentang Viral, Tapi Tentang Diingat
Banyak brand terjebak mengejar viral. Padahal viral belum tentu membangun awareness yang kuat. Yang lebih penting adalah konsistensi dan keterhubungan pesan dengan audiens.
Brand yang kuat bukan yang sekali ramai lalu hilang, tetapi yang:
- Terus muncul dengan pesan yang relevan
- Terus hadir dengan identitas yang konsisten
- Terus membangun hubungan sejak pertemuan pertama
Awareness bukan lari cepat, melainkan maraton panjang membangun ingatan.
Penutup: Jangan Jualan Sebelum Diperhatikan
Banyak brand sebenarnya tidak kalah di produk atau harga. Mereka kalah di satu hal sederhana: tidak cukup diperhatikan.
Tanpa perhatian, tidak akan ada ketertarikan.
Tanpa ketertarikan, tidak akan ada percakapan.
Tanpa percakapan, tidak akan ada pembelian.
Maka sebelum terlalu jauh berbicara soal conversion, iklan mahal, dan strategi closing, pastikan satu hal ini terlebih dahulu:
Apakah brand Anda sudah benar-benar diperhatikan?
